Di tengah derasnya arus globalisasi dan derasnya informasi digital yang kerap menggoyahkan nilai-nilai kebangsaan, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya kembali menegaskan jati dirinya: bukan sekadar pencetak sarjana unggul, tetapi juga penjaga nilai luhur bangsa. Sabtu, 24 Januari 2026, kolaborasi strategis antara Untag Surabaya dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI menggelar kegiatan bertajuk “Pancasila sebagai Ideologi Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Raya” di Auditorium Gedung R. Ing Soekonjono.
Lebih dari sekadar seremoni, kegiatan ini menjadi ruang refleksi dan afirmasi bahwa perguruan tinggi adalah benteng ideologis yang tak boleh runtuh. Ratusan mahasiswa lintas fakultas hadir, termasuk dari Program Doktor Ilmu Administrasi, menyimak dan menyerap semangat kebangsaan yang disampaikan para narasumber.
Ketua YPTA Surabaya, J. Subekti, mengingatkan bahwa internasionalisasi kampus bukan berarti menghapus identitas kebangsaan. “Mahasiswa Untag Surabaya harus unggul secara akademik, tetapi tetap berpijak kuat pada nilai Pancasila sebagai jati diri bangsa,” tegasnya. Sebuah pesan yang menggugah, bahwa menjadi warga dunia tak berarti meninggalkan akar budaya dan ideologi bangsa.
Wakil Rektor III, Dr. Sumiati, menambahkan bahwa kampus bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembinaan nilai. “Ketahanan ideologi bangsa sedang diuji. Kita harus hadir sebagai penjaga nilai, bukan sekadar pengisi ruang kelas,” ujarnya penuh semangat.
Kepala BPIP RI, Yudian Wahyudi, mengajak mahasiswa untuk menjadi pelaku utama dalam merawat Pancasila. “Perjuangan hari ini bukan lagi fisik, melainkan perjuangan nilai. Pancasila harus hidup dalam cara berpikir dan bertindak kita sehari-hari,” pesannya.
Dari perspektif akademik, Prof. Teguh Priyo Sadono menekankan bahwa nilai kemanusiaan adalah inti dari Pancasila. “Pendidikan tinggi harus menjadi ruang tumbuhnya humanisme, bukan sekadar tempat mengejar gelar,” ujarnya. Sebuah pandangan yang sejalan dengan semangat Program Doktor Ilmu Administrasi yang menempatkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai fondasi kepemimpinan publik.
Sementara itu, Andy Apriyanto dari BPIP menggarisbawahi pentingnya karakter Pancasilais: religius, toleran, jujur, dan demokratis. Karakter inilah yang menjadi bekal utama para doktor administrasi publik dalam merancang kebijakan yang adil dan berkeadaban.
Kegiatan ini bukan akhir, melainkan awal dari sinergi berkelanjutan. Untag Surabaya, sebagai bagian dari Perguruan Tinggi Nasionalis Indonesia (Pertinasia), terus meneguhkan diri sebagai Kampus Merah Putih—tempat ilmu dan nilai bertemu, tempat intelektual dan ideologi saling menguatkan.
Bagi Program Doktor Ilmu Administrasi, momen ini menjadi pengingat bahwa keunggulan akademik harus selalu berpijak pada akar ideologis yang kokoh. Karena dari kampus inilah, lahir pemimpin yang tak hanya cerdas berpikir, tetapi juga bijak bersikap.